Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

13/05/17

Dear Distance,



Kutitipkan rindu ini pada jarak
Tempat muasalnya datang
Dalam tiap jengkal kilometernya

09/05/16

Perjalanan Baru.


Tidak ada yang mengharuskan kamu untuk melupakan.
Sebab lupa serupa cinta, ia datang tanpa kamu pinta.
Kamu tidak bisa melupakan, sebab kamu belum diijinkan.
Pun begitu kamu memaksa untuk mengingat, kamu tidak akan mampu.
Adalah waktu yang akan membantumu: untuk melupa, untuk mencinta.
Waktu adalah teman perjalanan yang diberikan-Nya.
Agar kamu tahu bahwa kamu tidak pernah sendiri.

Tidak ada yang memaksa kamu untuk memaafkan.
Sebab maaf serupa rindu, ia datang dari hatimu.
Kamu tidak mampu memaafkan,
Bukan karena tidak mampu, kamu hanya tidak rela.
Adalah ikhlas sebaik-baik penyembuh: luka dan lara di hatimu.
Ikhlaskan, maka kamu akan memahami mengapa semua terjadi.
Ikhlaskan, maka kamu akan mengerti sebagian dari keindahan rencana-Nya.

Sebab hidup bukan perkara aturan.
Hidup adalah anugerah yang kamu dapatkan satu kali.
Tidak pernah ada paksaan untuk segala sesuatu yang kamu lakukan.
Salah-benar, sedikit-banyak, baik-buruk adalah perkara sudut pandang.
Lihat hatimu, maka kamu akan tahu bagaimana Tuhan berbincang padamu.
Lihat hatimu, maka kamu akan mengerti arti menjadi dewasa.

Lihat aku, maka kamu akan tahu bahwa aku sedang mendoakanmu.
Selamat bertambah usia.

21/03/16

Silly love poems.

Padamu kutemukan teduh
Seperti oasis dalam padang pasir
Musafir yang pada akhirnya
Pulang ke rumah


Padamu kutemukan diri
Seperti bagian dari kepingan
Melengkapi yang ganjil
Menjadikannya utuh


Padamu kutemukan jawab
Seperti teman lama yang tidak saling bersua
Kini aku tahu
Mengapa dulu tidak terasa tepat

source: instagram.

Sebab itu,
Kuberanikan diri untuk mengucap namamu
Dalam doa dan sujud panjangku
Mungkin tidak untuk saat ini
Mungkin nanti
Atau mungkin tak pernah ada lagi


Karena kamu adalah rumah
Yang selalu kurindukan untuk kembali.

05/03/16

Doa Sabtu Malam


Pesan-pesan berdatangan dari hulu
Pada-Mu semua bermuara
Ada doa, harapan, janji, hingga serapah yang menunggu balas
Tuhan, tidakkah Kau begitu lelah membalas satu per satu?

Kini, Bersamaan dengan rintik air yang turun,
Kau buka pintu langit dengan cuma-cuma
Membiarkan hambaMu
menambah panjang daftar pesan yang harus dibalas
Tidakkah Kau begitu sabar pada kami?

Aku barangkali adalah setitik diantara jutaan hambaMu yang meminta
Seorang yang penuh lupa, juga sering abai pada perintah dan laranganMu
Pesanku, barangkali tidak jauh lebih penting dibandingkan dengan
Mereka yang bertahun mengulang kalimat yang sama
Tapi aku tahu, Kau Maha Baik

Maka kupinta satu, Tuhan Semesta Alam,
Tolong sampaikan padanya,
Bahwa
Aku benar-benar merindu

*****

04/11/15

Bersamaan dengan Lagu-lagu yang Diputar Ulang

source: pinterest.

Kita adalah orang-orang naif
Yang tak acuh pada kemungkinan-kemungkinan di masa depan
Lupa bahwa bersama jatuh cinta, ada patah hati yang mengiringi
Abai pada kecewa yang hadir bila harapan-harapan gugur

Kita adalah sekumpulan orang yang sedang jatuh cinta
Menguntai skenario diam-diam
Atas impian, pengharapan, dan keinginan-keinginan
Terlupa pada Penulis Hidup yang sebenarnya

Kita adalah orang-orang naif yang sedang jatuh cinta
Untuk rindu dan ragu yang datang bersamaan
Untuk tanya dan jawab yang saling berkejaran
Untuk kini dan nanti yang kelak berganti masa lalu


Untuk cinta yang sedang kita dekap erat-erat saat ini

*Sebab ketika kau sedang jatuh cinta,
Tidak ada hal lain yang ingin kau dengar kecuali
Lagu-lagu picisan yang selalu kau putar ulang
Tidak ada hal lain yang ingin kau baca kecuali
Sajak-sajak cinta yang menggambarkan perasaanmu

21/09/15

Perahu Kayu dan Lautan Biru Tua

Sebuah perahu kayu berlayar tanpa awak di lautan biru tua

Barangkali lautan mengetahui bilamana ia mulai berlayar 
Barangkali ombak mengerti kemana ia akan menuju 
Barangkali pasir pantai menghitung banyak dermaga yang pernah ia singgahi 
Barangkali burung camar dan lumba-lumba terbiasa mendengar segala keluhnya


ArtJog 2015


Pada semesta, perahu kayu berkisah:
Ia tidak ingin mati karam bersama karang-karang tajam,
   Bilamana badai datang di tengah samudra luas
Ia tidak ingin lagi singgah pada dermaga,
     Baginya, persinggahan hanya akan meninggalkan luka baru
Ia ingin berlabuh,
      pada masa yang tak terhingga
Meski ia sendiri tahu,
  Selamanya tidak pernah benar-benar ada

13/09/15

Serendipity


Aku pernah jatuh cinta,
  Pada waktu yang bergulir,
 Diam-diam menjelma kenangan.

 Waktuku, serupa tanya yang hilang dengan alasan 



 Aku pernah jatuh cinta,
 Pada kata yang terucap, 
 Pelan-pelan beku dalam ingatan. 

Kataku, serupa kapal yang karam di tengah lautan


 Aku, dulu pernah jatuh cinta, 
Pada harum rindu yang baru, 
Lambat-lambat menguar kadaluwarsa.

Rinduku, serupa padang hijau yang gersang ditinggal hujan 




Dan kuharap,

Hatiku
takkan pernah
jatuh

padamu.

16/03/15

Pohon Meranggas

Kemarau singgah sebentar,
diantara basah tanah hujan

Ada yang meranggas: pohon perasaanmu,

Seumpama harapan adalah daun-daun yang gugur,

Habislah sudah!

15/03/15

Pesan Tertunda

Lamat-lamat, terdengar suara angin memanggil tak jelas apa,
Semacam yang  lama tak terucap tapi  menyesakkan dada

Menggigil

Bukan takut
Sekadar resah

Ingatan kembali datang membawa perih yang lama terlupakan
Menggugat episode hati yang belum tuntas
Meminta jawab atas tanya yang selamanya tidak pernah ada

Adakah ia menutup rapat telinga?

Mematikan seluruh indera miliknya, melupakan semua,
mengubur jauh-jauh harapan yang diam-diam tumbuh
Serupa kembang mawar yang selalu mekar di dalam genggaman

Bilakah ia tahu?


Dengarlah, Kasih

Ada tanya yang sudah lama kadaluwarsa
Ada yang menginginkannya ada, meski telah lama tiada

Serupa metamorfosa rindu menjadi dendam kesumat
Ingin lekas dibalas
Ingin lekas diakhiri

Dalam kepekatan kabut, langkah (kembali) terhenti

11/03/15

Doa Terlarang

Kamu adalah manis yang mematikan,
 Mengingatmu membuatku lupa untuk bernapas

Kamu adalah salah yang menggenapi,
 Mengenalmu adalah pelajaran bagiku

Kamu adalah doa yang terlarang kuucap,
 Sekali kurapal, hidupku takkan lagi baik-baik saja.


*ditulis beberapa hari yang lalu.

08/03/15

Jejak Kaki di Atas Pasir

Kisah ini seperti sebuah jejak kaki di atas pasir pantai.
Membekas sebentar, lalu lenyap.
Tergerus angin, hingga tersingkap deburan ombak yang menyentuh bibir pantai.

Namun kau tahu, aku tahu, kita sama-sama tahu.
Ada yang tertinggal disana.
Meski kasatmata, kita, setidaknya aku, tahu.
Sebelum semua kembali dan terlihat biasa-biasa saja.

Ada yang sudah berubah.
Meski tak dikatakan, kita sama-sama tahu.

Ada yang berubah.

Dan tahukah kau, mengapa dada ini terasa sesak?

Karena, kaki tak pernah sadar bahwa apa yang ia tinggalkan untuk pasir-pasir pantai, senja itu, meninggalkan bekas.

Sedikitpun kaki tak pernah tahu, bahwa bekas itu, meski akan hilang, telah mengubah pasir-pasir itu.
Semua tahu, semesta alam raya tahu, bahwa pertemuan akan meninggalkan kesan, sekecil apapun.

Sadar tidak sadar.
Sengaja tidak sengaja.

Tetap ada yang tertinggal.
Tetap ada yang tersisa.
Tetap ada.

Yang menyesakkan dada.

Karena bagaimana caranya pasir berbicara pada telapak kaki, bila mereka diciptakan dengan bahasa yang berbeda?

Bagaimana caranya pasir berucap pada telapak kaki, bila telapak kaki terlalu cepat pergi hingga pasir tak sempat berkata padanya?

Bagaimana caranya?

Pun ketika semua sudah kembali, seperti mula,
Tetap adayang berbeda.

Ada jejak kaki, yang meski sudah lama pendar,
Tetap tertinggal dan diingat oleh pasir-pasir putih itu.

Bilakah waktu terulang kembali?


Februari 2015

21/02/15

Karena Kamu

Ada yang pergi diam-diam, 
tanpa berucap salam perpisahan: 




kamu.

19/02/15

Dongeng Sebelum Tidur

Pada suatu masa, di Kerajaan nun jauh disana, kau dan aku bercakap.
Katamu, bahagia hanya ada dalam dongeng dan roman picisan.
Kau tidak percaya dengan kebahagiaan.
Aku diam, mendengarkan ocehanmu.
Ingin sekali aku memberimu cermin besar, kalau aku punya alat semacam kantong ajaib.
Kau tidak percaya?
Lantas apa yang menjadi alasan di balik bibir yang melengkung, mata yang berbinar dan tawamu itu?

Pada suatu masa, di Kerajaan nun jauh di sana, kau dan aku bercakap.
Katamu, cinta sejati itu bohong besar.
Kau lebih banyak sakit hati ketimbang merasa dicintai.
Aku diam, bersabar mendengarkan ocehanmu.
Ingin sekali aku memberimu cermin besar, kalau aku punya alat semacam kantong ajaib.
Bagaimana kau bisa mengatakannya?
Lantas apa yang menjadi alasan di balik usahamu untuk terus bersama dengan kekasihmu saat ini?

Pada suatu masa, di Kerajaan yang tidak pernah ada, kau dan aku bercakap.
Katamu, kehidupan ini adalah fatamorgana.
Kau tidak sedang hidup, kau hanya berpikir bahwa kau sedang hidup.
Kali ini, aku tidak lagi bisa bersabar mendengarkan ocehanmu.
Kau melantur, aku mulai muak, aku tidak suka.
Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?
Lantas apa yang sedang terjadi saat ini, detik ini, padamu, juga padaku?

Katamu:
“Aku tidak peduli.”

Selepas subuh, 19 Februari 2015

21/01/15

Analogi Cinta

Melihat, tak menatap.

Dekat,

tapi berjarak.

Bercakap tanpa tanya.

Diam.

Terlalu lama.

Melangkah enggan,

mundur tak mau.

Terduduk sendiri,
menatap kosong.

Bodoh,
                  hilang akal,
                                       tak tahu diri,
tersesat,
                 entah kemana.

Mulut bisu, hati teriak.

Memanggil,
Satu nama:



                     Cinta.

29/12/14

Sembari Menunggumu #1

Dimanakah engkau, saat air mulai turun membasahi bumi rintik-rintik?
Mungkin sedang bersisian dengan yang kau sayang.
Mungkin sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.
Mungkin pula, sedang menunggu mereka yang telah lama tidak memberi kabar

..........................................


Aku,
tengah berharap untuk lekas bertemu denganmu,
sembari menunggu hujan reda.

Jogja, 16 November 2014