Tampilkan postingan dengan label How To Stop Time. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label How To Stop Time. Tampilkan semua postingan

07/11/15

How To Stop Time #3: Alter Ego

Kau menatapku dalam-dalam. Aku dapat mendengar bisik dari binar matamu. Ada pengharapan untuk dimengerti.

“Aku tidak bisa lagi kali ini.”

source: pinterest.

Aku mengerti sebagaimana kau selalu mengerti aku. Kebersamaan kita yang menahun, membuatku tahu benar apa yang sebenarnya kau rasakan. Kau rela melakukan apapun asal kau dapat mengulangi waktu. Tidak untuk yang saat ini, tapi untuk keputusanmu bertahun lalu.

“Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakan padanya.” Katamu.

Aku menghela napas panjang. Aku juga tak tahu. Yang aku tahu, saat ini adalah sesalmu yang tak berujung. Lagi-lagi, bukan pada yang kini, tapi pada yang dulu.

“Tidak seharusnya aku berpura-pura. Tidak seharusnya aku memaksakan diri.”

Tidak sekali kau mengatakannya. Aku sudah mendengarnya puluhan kali. Bukan muak, hanya merasa cukup atas semua tuduhan yang kau tuju untuk dirimu sendiri. Lantas aku beranjak dari jarak dan merengkuhmu erat-erat.

Tangismu pecah.
Dapat kurasakan luka yang kembali terbuka. Dapat kurasakan frustasi atas kemarahanmu sendiri. Dapat kurasakan pedih atas perasaan bersalahmu. Dapat kurasakan semuanya. Kini aku semakin tahu. 

“Kau tahu bahwa ini adalah prosesmu menjadi dewasa. Untuk semua keputusan dan pilihan yang kau ambil, sadarilah. Untuk semua yang telah terjadi, terimalah. Untuk hal-hal yang akan terjadi di masa mendatang, berdoalah.”

Kau melepaskan pelukanku bersamaan dengan ucapku tadi. Ada yang terlepas, meski tak cukup jelas. Tapi aku tahu, kau telah mengerti.

10/10/15

How To Stop Time #3: Ephemeral

“Katakan saja, aku tidak apa-apa.”

Sumber gambar
Seperti yang sudah aku duga, Jim akan menjawab begitu.
Pikiranku semakin tidak karuan. Rangkaian kalimat yang sudah berkali-kali aku latih di depan kaca mendadak lenyap tak berbekas. Aku benar-benar tidak tahu harus memulai dari mana.

“Jangan pergi, Jim. Semuanya terlalu singkat.” Bisikku lirih.

Air muka Jim tampak tenang. “Jadi ini yang selama ini kamu pikirkan?”

Aku mengangguk pelan. Air mataku sudah menumpuk di pelupuk, membuatku tak berani menatapnya lagi. Bagaimana bisa aku yang seharusnya menjadi penyemangatnya justru kini yang terlihat paling lemah?

“Aku tidak akan pernah pergi.” Katanya.

Kurasakan tangannya mengacak rambutku pelan. “Aku hanya akan pulang. Semua orang akan pulang, kan?”

Aku tidak bisa kehilangan Jim. Tidak untuk saat ini. Tidak untuk kebersamaan kami selama tiga tahun. Tidak untuk mimpi-mimpi yang belum tercapai. Tidak untuk janji-janji yang belum tuntas. Tidak untuk hari-hari yang ingin aku lewati bersamanya.

“Aku nggak mau...aku nggak mau sendirian. Kamu jangan pergi.” Aku menangis di hadapannya. Satu hal yang selama empat belas hari terakhir ini amat terlarang untuk aku lakukan.

“La,” Jim merengkuh wajahku lembut. “Kamu nggak pernah sendirian, ada orang-orang yang bakal selalu sayang sama kamu. Ada mama, papa, Rendra, Kayra. Dan aku.”

Tangisku semakin menjadi. “Nggak. Kamu pergi. Kamu nggak ada lagi. Aku nggak mau... Semuanya beda.”

Mataku menatap Jim lekat-lekat. Wajahnya pucat. Tak bisa kulihat lagi binar di matanya. Kanker pankreas telah merenggut semuanya dari Jim. Termasuk hidupnya.

“Jangan sedih, La. Selama kamu di sisi, aku berjanji nggak akan kemana-mana.”


****

*Terinspirasi dari lagu Tangga - Tak Kemana-mana

24/06/15

How To Stop Time? #2

"Aku kira kamu nggak akan datang." 
Sebuah suara nyaris membuatku menjatuhkan gelas minum di tangan. Itu suara Tyan, kakak laki-lakimu. 

Aku tersenyum kecut. Mendadak merasa begitu bodoh dan ceroboh. 

"Udah ketemu sama Dani?" Ia menyebut namamu. 

Aku menggeleng pelan. 

Jika saja melupakan semudah menyingkirkan tumpukan kertas usang di ujung ruangan. Jika saja sebuah pertemuan bisa dirancang seperti apa yang kita inginkan. Jika saja tidak pernah ada debar, harap, rindu, cinta....antara kita. 

Semua akan begitu mudah. 

Semudah menarik kedua bibir hingga membentuk lengkungan senyum. 

Semudah melihat orang-orang yang datang silih berganti menyalami dirimu -- juga dia, perempuan yang beberapa jam lalu resmi menjadi istrimu. 


I hate this part paper hearts
And I’ll hold a piece of yours


Don’t think I would just forget about it
Hoping that you won’t forget 


*******

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

23/06/15

How to stop time? #1

"Hai."

Hening selama belasan detik itu akhirnya pecah juga. Ada yang mengalah untuk mulai berbicara: kamu. 

Aku tersenyum getir. 

Hatiku terasa makin teriris mendengar suaramu. Sungguh, untuk melihat wajahmu pun aku merasa tidak sanggup. Rindu ini terlalu dalam hingga aku nyaris lupa bagaimana rasanya bahagia saat melihat dia-yang-kau-rindukan. Kamu, laki-laki yang pernah membuat hatiku berbunga sekaligus hancur berkeping-keping. Kamu adalah masa lalu yang tak pernah aku sesali. 

"Aku..." Kita bersuara, nyaris bersamaan.

Ada perasaan aneh yang menyembul di dadaku. Aneh, tapi familiar. Perasaan yang sudah lama sekali tidak pernah datang.

"Hahahaha, apa kabar?" Kamu terlihat begitu santai. 

Aku meringis. Ingin sekali aku menjawabnya. Tapi semuanya terasa berat. Entah kenapa.

Kita kembali saling diam. 
Bertatapan dalam jarak yang amat ganjil untuk dua orang yang tengah bercakap - terlalu jauh. 

Perlahan, aku lihat kamu berjalan mendekat. "Kanaya, aku...." 
Tanganmu meraih lenganku dan aku meresponnya dengan gerakan yang tidak pernah aku duga. 
Aku memelukmu, selama tidak kurang dari lima detik. 

Kamu terpaku, menatapku tak percaya.
Aku juga sama kagetnya, andai kamu tahu. 

"Selamat tinggal."
Aku berbalik dan berjalan menjauhimu. Secepat aku bisa. 

Di tangan kananku, ada kertas tebal berwarna merah tua. 

Undangan pernikahanmu dengan kekasihmu.

Pekalongan, 23 Juni 2015